Mantra work-life balance

Pada akhirnya mantra work-life balance bagi ibu bekerja (apalagi di Prancis yang segala-galanya musti sendiri, no mbak no ART whatsoever) adalah harga mati. Biarlah kenaikan gaji gak seberapa *curhat alert* asalkan ada fasilitas kemudahan untuk kerja dari rumah kapan pun, kebebasan mengambil hak cuti bahkan di detik terakhir, jam kerja fleksibel… Semua itu dengan catatan target kerja terpenuhi tentunya ya.

Jadi kalau dibilang ini zona nyaman, ya memang nyaman banget sih. Lagipula hari gini di mana cari kerja itu susye di Prancis (apalagi buat kaum pendatang), saya bersyukur bisa ada di posisi ini. Walaupun ya… kalau presentasi kenaikan gaji bisa *jauh* melampaui tingkat inflasi, saya tentunya akan jauuhhh lebih senang :-D.

Iklan

Independent, not super woman

Hari gini, masih ada ya yang masih bercita-cita gak mau kerja setelah menikah. Gak mau lho ya, bukan gak bisa. Lalu mempertanyakan kenapa perempuan harus jadi super woman karena harus bekerja dan mengurus rumah.

Hmmm… kalau saya sih ya, bekerja bukan untuk jadi super woman, tapi untuk jadi independent woman. Karena siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti? Kalau suami tidak bisa jadi “provider” saya lagi, apa pun alasannya, saya akan masih bisa bertahan. Lagipula hari gini gitu lho, perkara mengurus rumah dan anak selalu bisa dikerjakan bersama dengan suami. Jadi gak ada alasan untuk mengasihani diri sendiri dan “meratapi nasib” kenapa harus jadi super woman.

Menjadi ibu bekerja di Prancis

Sejak November 2011, saya resmi menyandang gelar ibu bekerja. Eh, sebetulnya, resminya sih, baru awal Februari 2012, pas masuk kantor lagi. Rasanya masuk kerja lagi setelah cuti 16 minggu gimana? Terus terang, saya sudah gak sabar dan excited bisa nyangkul lagi. Sedih juga, pastinya… Karena gak bisa seharian sama-sama bébé lagi. But, like I once I said on my FB, I love my son, however I need to work to keep me sane :). Saya butuh kerja lagi, bukan cuma karena alasan finansial, tapi juga karena saya gak bakalan betah di rumah saja :).

 

Lalu, apa rasanya jadi ibu bekerja di sini? Pertama-tama yang jelas, ca-pek :). Tau sendiri lah ya, di Prancis tenaga kerja mahal bener, jadi kami gak mampu bayar ART. Sayang juga lah, uangnya, timbang beres-beres apartemen sama setrika aja mah mending saya aja yang ngerjain… Lagipula gaji nounou (=nanny) untuk jaga bébé selagi saya dan papanya kerja aja sudah cukup bikin saya sesak nafas :). Bébé dijaga nounou dari pagi sampai sore. Pagi sebelum saya ke kantor, bébé saya drop di rumah nounou-nya, lalu saya jemput lagi sore sepulang kantor. Untungnya dapat nounou yang tinggalnya gak jauh dari rumah, dan lumayan sreg juga sama orangnya. Jadi tenang lah saya ninggal bébé seharian mengejar mimpi *tsah*.

 

Banyak teman yang nanya, kenapa bébé dijaga di rumah nounou, bukan di rumah saya. Alasan yang pertama dan terutama adalah, karena kalau mendatangkan nounou ke rumah itu gajinya berlipat-lipat bok! Gak rela *dan gak mampu :D* deh. Walaupun nantinya akan ada diskon pajak kalau kita memperkerjakan nounou di rumah, teteup aja gak mau bayar gaji nounou yang gedenya hampir sama dengan gaji saya sebulan. Nanti seolah-olah saya kerja cuma buat bayar dia aja dong? Alasan kedua, karena saya gak nyaman kalau ada orang asing masuk dan “injak-injak” rumah saya waktu saya gak di rumah. Jadi, solusi terbaik memang bébé dijaga di rumah nounou saja. 

 

Dari sekian ratus euros gajinya, ada sekian persen tunjangan pemerintah, jadi total pengeluaran bersihnya kalau dihitung lumayan gak bikin sesak nafas lagi :). Oh, syarat untuk mendapatkan bantuan pemerintah ini, nounou-nya harus yang sudah mendapatkan pendidikan khusus pengasuh anak ya. Namanya assistante maternelle agréée. Harus bersertifikat lah begitu. Jadi gak bisa kita rekrut orang abal-abal kayak di Indonesia :). Eh, bisa aja sih, tapi kita gak bakalan bisa dapet tunjangan dari pemerintah. Jadi kayak kerja gelap gitu deh. 

 

Si bébé diurus nounou ya hanya sewaktu saya dan papanya kerja. Setelahnya, yuk full time diurus sama kami sendiri. Jadi saya dengan bangga memproklamirkan diri sebagai full time mom slash working mom deh :). Gak deh, bercanda. I mean, I strongly disagree with the term of full-time mom. EVERY mom is a full-time one. Gak ada mama paruh waktu kan? Waktu saya di kantor pun, saya tetap maman-nya bébé. Tetap mikirin bébé di tengah kesibukan kerja yang menggila tapi asik itu. 

 

Sempat sih ya, ada perasaan bersalah dan hati rasanya remuk redam tiap nge-drop bébé di rumah nounou. Saya sempat aja gitu mewek di tengah angin musim dingin setelah ninggal bébé sama nounou-nya :). Tapi dikuat-kuatin saja lah. Toh, saya gak sendiri. Banyak contoh perempuan hebat di sekeliling saya yang membuat saya yakin bahwa, saya bisa :). Di Prancis pastinya  supporting system-nya gak seperti di Indonesia ya. Apalagi untuk kasus saya, tidak ada keluarga yang tinggal berdekatan. Kalau pun ada, saya gak bakalan bisa ujug-ujug ke rumah mereka lalu nitip bébé seharian selama saya kerja. Mereka punya kesibukan sendiri, dan bukan budaya sini untuk titip jaga anak seperti itu. Jadi marilah semua-muanya diurus sendiri :).

 

Capek? Iya. Awalnya banget banget banget deh. Lama-lama biasa juga dengan ritme heboh di pagi hari. Memang sih, saya jadi gak sempat sarapan lagi sekarang. Antara bangunin bébé, nyiapin dan kasih sarapan, saya siap-siap ngantor, nyiapin bébé berangkat ke nounou, sampai akhirnya berangkat itu lumayan bikin jungkir balik :). Enjoying it though. 

 

Titik kulminasi dari semuanya adalah kabar promosi di bulan Oktober 2012 kemarin. Di sini saya jadi pingin mewek berat. Terharu aja karena bisa sampai di titik itu “walau” dengan status beranak satu :). Mungkin lebay buat orang lain ya, tapi ada kepuasan tersendiri bahwa saya bisa membuktikan, punya anak itu gak harus menghambat karier. Bahwa saya bisa juga ternyata, bersaing di dunia kerja di Prancis “walau” sudah punya anak. Dengan tanpa asisten :). Dengan dukungan bébé yang selalu manis, gak pernah nangis kalau saya tinggal sama nounou-nya. Makasih ya, sayang. Maman gak akan bisa sampai ke titik ini tanpa kamu. Je t’aime, bébé.  

 

 

 

 

 

Promosi!

Gimana reaksimu kalau impianmu terkabul (kurang lebih) persis plek plek dengan apa yang kamu bayangkan sebelumnya? Kalau di saya, jadinya mata nanar, lidah kelu, dan gemeteran hahahaa… Norak ya? 😀

Promosi berarti bukan akhir, tapi justru awal yang jauh lebih besar (dan berat). Banyak banget hal baru yang harus saya pelajari, termasuk SQL yang sampai sekarang masih saya anggap makhluk planet :D. Ada yang bisa gak, ajarin dong :).  Tapi kalau saya dipercaya berarti saya memang mampu kan ya?

Bismillah, may the force be with me, and with all of you too! 🙂

Adrenaline junkie

Kalau lagi didera pekerjaan di kantor, rasanya pingin cepet pulang terus menggeletak di depan TV… awalnya. Habis itu, malah keasikan dan kaget sendiri waktu ngeliat jam. Ih ternyata sudah waktunya ngejar kereta untuk pulang, terus tau-tau merasa “berat” ninggalin kantor, males pulang :D. Terus sekarang ini, Jumat malam, merasa kelebihan energi dan kangen sama hari Senin, sama heboh-hebohnya, sama aliran adrenalin waktu setengah stress menyelesaikan pekerjaan. Iya gitu deh, kalau kebanyakan yang musti dikerjain, saya (agak) stress. Kalau gak ada yang dikerjain, lebih stress lagi.

Btw, saya iseng ngetes diri sendiri di sini, dan skor saya 46, yang berarti High Urgency Mind-Set. Masa iya sih, kayanya engga deh *denial* 😀

Tapi yang ini memang gw banget :

I start thinking about what I have to do at work within a few minutes of waking up.

I have a hard time slowing down and relaxing when I reach the end of the workday.

I seem to do my best work when I’m under pressure.

I often eat lunch or other meals while I work. *ehem pantes celana panjang tambah sempit* 😀

I often give up quality time with important people in my life to handle situations at work. >>> This is bad, I know…

When something cancels or I get unexpected free time, my first thought is what work I can fill the empty space with.

While I’m working, I feel the pressure of all the other things I have to do that are hanging over me.

OK, catatan untuk diri sendiri: slow down!! 🙂

Kayaknya ada yang salah hitung…

Jadi, hari ini si kompensasi yang ditunggu-tunggu, satu-satunya penyemangat kerja *hihi* keluar juga. Alhamdulillah, lebih baik daripada tahun lalu, walau gak terlalu spektakuler. Pak bos bilang bahwa bonus saya naik 10% dari tahun lalu, dan menurutnya, kenaikan itu termasuk di antara yang paling signifikan di kantor. Tapi setelah saya liat-liat lagi, kayaknya ada yang gak beres deh… Jadi catatan bonus saya menurut pak manajer itu lebih besar dari bonus yang sebenarnya saya terima tahun lalu. Kesimpulannya? Berarti kenaikan bonus saya sebenarnya 30% :D. Ngggg…perlu kasi tau gak ya? Tapi kan pasti perhitungannya sudah masuk ke bagian keuangan dan siap ditransfer untuk akhir bulan ini… 😀

Bekerja di Prancis

Beberapa bulan lalu, saya pernah diwawancarai suatu majalah untuk topik peluang karier WNI di negara-negara favorit. Di bawah ini salinan jawaban saya, yang tentunya sudah diedit untuk versi majalah. Siapa tahu ada yang perlu, semoga berguna :).

Menurut saya, profesi yang relatif lebih terbuka untuk warga pendatang umumnya adalah pekerjaan yang membutuhkan bahasa asing kedua, terutama Bahasa Inggris. Lebih spesifik lagi, pekerjaan seputar urusan administratif atau kesekretarisan. Mengapa di bidang administratif ? Karena menurut saya, orang Indonesia yang sudah menguasai Bahasa Prancis paling tidak pasti telah mengetahui pekerjaan administratif dasar, seperti korespondensi dalam Bahasa Prancis atau membuat risalah dalam Bahasa Prancis. O ya, kemampuan berbahasa Prancis minimal di tingkat menengah WAJIB hukumnya sebagai modal kita memasuki pasar kerja di Prancis. Kalau ditambah dengan penguasaan bahasa asing tambahan tentunya akan menambah peluang kita. Tapi yang pertama dan terutama tetaplah kemampuan bahasa Prancis.

Sejak tahun 2007, saya bekerja sebagai Research Analyst for Financial Market. Tugas saya adalah mengumpulkan dan menganalisis data finansial dan mengintegrasikannya di data base yang produk akhinya diperuntukkan bagi para manajer investasi, bankir, atau lembaga riset finansial. Saya mendapatkan pekerjaan ini setelah terdaftar di ANPE (Agence Nationale de l’Emploi), yang sekarang berganti nama menjadi Pôle Emploi (PE). PE adalah lembaga pemerintah di bawah Kementerian Ekonomi, Industri, dan Tenaga Kerja yang berfungsi memfasilitasi para pencari kerja. Mereka yang sedang dalam status pencari kerja disarankan untuk mendaftarkan diri ke lembaga ini. Setelah terdaftar, kita akan diwawancarai oleh konselor PE mengenai latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja kita, jenis pekerjaan yang kita minati, serta pelatihan apa yang kita butuhkan untuk mendapatkan pekerjaan termaksud. PE memang menyelenggarakan berbagai pelatihan/kursus singkat, mulai dari pelatihan dasar cara menyusun CV atau surat lamaran yang efektif, pelatihan mengenai software perkantoran (Word, Excel, Power Point), kursus bahasa Inggris, sampai yang spesifik seperti pelatihan di bidang mekanik misalnya. Berbagai pelatihan ini ada yang diadakan langsung di dan oleh PE, ada yang diselenggarakan melalui kerja sama dengan lembaga pelatihan swasta. Para pencari kerja yang terdaftar di PE diharuskan melaporkan situasinya setiap bulan, apakah sudah berhasil mendapatkan pekerjaan atau belum. Kalau masih belum mendapat pekerjaan, setiap 6 bulan akan ada interview lagi dengan konselor yang menangani kita.

Saya mendapatkan lowongan pekerjaan saya sekarang di website PE (PE sebagai fasilitator para pencari kerja tentu juga menyediakan berbagai lowongan pekerjaan yang bisa diakses gratis oleh para anggota di website-nya. Kita bisa langsung mengajukan lamaran melalui website tersebut). Proses rekrutmennya berlangsung cukup singkat. Saya mengajukan lamaran hari Selasa, hari Rabunya saya langsung dihubungi oleh direktur perusahaan tempat saya melamar. Saya datang untuk wawancara pertama hari Kamis. Tahap pertama, wawancara dalam Bahasa Prancis. Tahap kedua, tes yang bertujuan untuk melihat kemampuan saya melakukan pembicaraan ringan dalam Bahasa Inggris, « disamarkan » dengan acara makan siang dengan pewawancara yang berbeda dengan tim di wawancara pertama. Setelah itu, saya diberikan suatu dokumen finansial dan diminta untuk menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan dokumen tersebut. Hari Jumat, direktur mengabari saya via e-mail bahwa hasil wawancara pertama sangat positif dan meminta saya untuk datang kembali hari Selasa di minggu sesudahnya. Wawancara tahap kedua tersebut sebenarnya bukan lagi berupa tes seperti di tahap pertama ; saya hanya diberikan presentasi kecil mengenai perusahaan dan gambaran pekerjaan saya jika kelak diterima. Tiga hari setelahnya, saya mendapatkan kabar via telepon bahwa saya diterima.

Mengenai tips melamar pekerjaan di Prancis, yang pertama dan terutama seperti yang saya tulis sebelumnya, WAJIB menguasai Bahasa Prancis. Tidak perlu sampai mahir dulu, minimal penguasaan kemampuan pemahaman lisan.

Beberapa tips lain :

• Jangan berhenti untuk belajar, belajar, dan belajar. Situasi pasar kerja di Prancis pastinya berbeda dengan Indonesia, jadi harus mau terus meng-upgrade diri sendiri dengan berbagai pelatihan untuk amunisi « bertarung » di pasar kerja Prancis.

• Terkait dengan poin di atas, sebaiknya daftarkan diri di Pôle Emploi. Perhatikan masukan dari para konselor dan aktif dalam sesi konsultasi dengan mereka. Jangan ragu untuk meminta berbagai pelatihan yang dirasa perlu untuk pekerjaan idaman kita (meskipun tidak ada jaminan bahwa permintaan kita pasti disetujui).

• Kadang perusahaan di Prancis agak « segan » mempertimbangkan lamaran kita kalau latar pendidikan dan pengalaman kerja kita didapatkan di luar Prancis. Jadi, terima saja kenyataan kalau kita harus menurunkan standar pekerjaan kita dan bahwa pengalaman kerja kita di Indonesia seakan tidak dihargai di Prancis. Anggap saja ini sebagai masa transisi dan adaptasi.

• Aktif mencari lowongan pekerjaan di berbagai media : koran, internet, website Pôle Emploi… Juga daftarkan diri di berbagai agen rekrutmen swasta seperti Manpower, Adecco, Synergie.

Untuk bisa bekerja di Prancis, diperlukan titre de séjour (KTP) khusus yang bisa diperoleh dengan menunjukkan kontrak kerja permanen (CDI/Contrat à Durée Indéterminée). Jadi punya kontrak kerja dulu, baru bisa mengajukan permohonan KTP. Namun demikian, jika punya KTP sebagai istri/suami WN Prancis, di KTP itu akan tercantum pernyataan bahwa KTP tersebut memungkinkan pemegangnya untuk bekerja di Prancis.

Beberapa website yang mungkin berguna:

POLE EMPLOI :http://www.pole-emploi.fr/accueil/

MANPOWER : http://www.manpower.fr/

ADECCO : http://www.adecco.fr/Pages/default.aspx

SYNERGIE : http://www.synergie.fr/index.php