You rock my world

Nggggg…kelamaan gak nge-blog, bingung mau mulai dari mana. Beberapa bulan ini saya memang nyepi, nenangin diri karena ada banyak hal yang musti dilakukan dalam waktu yang sama. Pingin cerita-cerita yang panjang, karena saya yakin di luar sana banyak yang sedang menempuh jalan yang sama. Kata kuncinya, klinik fertilitas :). Mohon doanya semoga semuanya lancar sampai hari H ya. Sekarang si bébé baru 7 minggu menjelang 8 minggu. Yang pasti, hamil itu ternyata berat yaaa, tapi saya gak mau ngeluh. Dinikmatin aja nikmatnya mual-pusing-capekan kayak gini :).

You rock my world, baby!

Promosi!

Gimana reaksimu kalau impianmu terkabul (kurang lebih) persis plek plek dengan apa yang kamu bayangkan sebelumnya? Kalau di saya, jadinya mata nanar, lidah kelu, dan gemeteran hahahaa… Norak ya? 😀

Promosi berarti bukan akhir, tapi justru awal yang jauh lebih besar (dan berat). Banyak banget hal baru yang harus saya pelajari, termasuk SQL yang sampai sekarang masih saya anggap makhluk planet :D. Ada yang bisa gak, ajarin dong :).  Tapi kalau saya dipercaya berarti saya memang mampu kan ya?

Bismillah, may the force be with me, and with all of you too! 🙂

3 tahun… lalu apa?

Gak terasa, ternyata sudah 3 tahun aja saya kerja di kantor sekarang. Terus seperti biasa, saya sudah mulai melakukan evaluasi tahunan (pribadi) mulai dari awal bulan September. Pikir-pikir lagi, apa sih yang sudah saya dapat dari pekerjaan ini, dari sisi intelektual, sosial, dan finansialnya.

Hmm, jujur sih ya, saya sempat sedikit kecewa sama beberapa hal tahun ini. Malah saya sempat bilang sama diri sendiri, tampaknya bulan madu sudah berakhir karena saya mulai melihat sisi-sisi lain yang sayangnya gak semua positif di kantor ini. Kecewanya banget banget…, malah tempo hari saya sempat berpikir, apa saya mundur saja ya, soalnya saya merasa sudah kehilangan sebagian motivasi kerja. Tapi setelah saya pikirkan lagi dengan tanpa emosi, plus berkat obrolan singkat dengan salah satu teman baik saya, saya akhirnya sadar bahwa emosi sesaat itu gak ada gunanya. Seringnya malah yang ada nanti cuma penyesalan saja.

Terus ya, di saat saya lagi bimbang begitu, seperti kebetulan (walau saya yakin gak ada yang namanya kebetulan), segala sesuatu di sekeliling saya seakan menegur saya untuk gak terlalu “manja”. Eh iya kan, manja karena saya mau semua berjalan seperti mau saya, kalau enggak, saya ngambek, mundur dari kantor :). Dan saat saya bilang segala sesuatu, itu dalam arti sebenar-benarnya. Segala siaran TV lah, bacaan, orang-orang di sekeliling saya, “menyentil” saya dengan caranya sendiri. Saya gak bisa menerangkan secara gamblang di sini, tapi benar-benar semuanya bikin saya “tertampar” bolak-balik dan bikin saya bilang,”OK, universe. I got the message, loud & clear.” 🙂

Lagipula hey, kalau pun saya memutuskan untuk pergi, belum tentu juga di kantor yang baru, saya gak akan menemukan masalah lain. Bisa jadi malah lebih parah keadaannya. Paling tidak, di tempat ini, saya menyukai pekerjaan saya. Dan saya sudah memutuskan, saya akan membuat diri saya bahagia. Caranya ya dengan tetap bekerja sebaik-baiknya, seperti sebelumnya, dengan tanpa menghiraukan hal-hal lainnya yang gak relevan. Saya akan tetap bekerja dengan hati riang. Itulah cara saya bersyukur karena masih diberkahi pekerjaan di masa yang serba gak jelas seperti sekarang :).

Best boss ever

Sepanjang pengalaman kerja saya, rasanya baru sekarang saya berani bilang bahwa boss saya adalah boss ter-OK. Hmm tapi mungkin gak bisa dibandingkan juga yah…karena sebelumnya saya kerja di Indonesia sebagai abdi negara, yang kumplit dengan segala birokrasi dan unggah-ungguhnya. Sementara sekarang saya kerja di suatu negara Eropa, yang tentunya konteks kulturalnya berbeda jauh dari Indonesia, pun demikian dengan corporate culture-nya.

Contoh yang paling sederhana, sekarang saya bisa menyapa atasan dengan “kamu” ; sementara kalau di Indonesia, saya bisa langsung diberhentikan dengan hormat kalau berani ber-kamu-kamu dengan atasan :). Saya pun bisa bebas memberi masukan bahkan kritik kepada atasan. Pastinya, semua dimungkinkan asal masih dalam batas-batas profesional ya.

Atasan saya yang sekarang berasal dari Swedia. Menurut saya, dia bisa banget menempatkan diri sebagai boss, tapi sama sekali gak bossy. Super cool tapi bisa menetapkan batas dan wibawa sebagai atasan. Diplomatis dalam berkomunikasi, jadi para stafnya merasa benar-benar dihargai. Singkatnya, merasa “di-orang-kan”. Saya belajar banyak sekali selama jadi stafnya. Caranya berkomunikasi secara lisan dan tulisan, cara memberikan dorongan pada orang lain tanpa harus terkesan memburu-buru atau pushy.

Baru-baru ini dia menganjurkan saya untuk mengikuti suatu pelatihan tentang coaching dan manajemen kepemimpinan. Saya sih merasa tersanjung aja, ge-er aja gitu siapa tau bakal dipromosikan segera hihi *amin!* :). Tapi begitu tahu bahwa salah satu materi pelatihan itu adalah public speaking, saya langsung ciut. Haduh, gimana sih, salah satu alasan saya mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya kan karena saya sering gugup kalau bicara di depan umum. Lah, sekarang malah disuruh cuap-cuap lagi? Kayaknya si boss tahu keengganan saya, dia lantas menyemangati saya dengan mengatakan bahwa public speaking bukan materi pokok. Yang penting di pelatihan itu adalah bagaimana kita bisa memperbaiki cara kita berkomunikasi secara efektif, yang merupakan modal penting untuk kemampuan melatih orang lain (to train the trainer). Kayaknya bapak boss pun orang yang agak introvert , jadi katanya dia pun tadinya gak begitu nyaman dengan materi public speaking. Tapi setelahnya dia merasa materi itu berguna untuk kemampuan manajerialnya. Yah, setelah merasa disemangati begitu, saya jadi agak mantap deh, sekarang. Ujung-ujungnya, saya jadi merasa bersyukur sekali punya pekerjaan yang sekarang ini. Hari gini gitu, di mana jumlah penganggur masih banyak, saya diberkati dengan pekerjaan yang saya sukai, dengan bonus kantor dan kolega yang menyenangkan, dan juga atasan yang terbaik. Alhamdulillah :).

Bonus tahun ini naik, tapi…

Akhirnya kabar tentang bonus yang dinanti-nanti itu datang juga. Tidak tepat seperti yang saya inginkan sih ternyata, soalnya situasi ekonomi masih belum pulih betul. Tapi satu hal yang saya hargai, pihak manajemen transparan sekali dalam menjelaskan kenapa, apa, dan bagaimana kebijakan perusahaan dalam memberikan bonus. Juga mengenai kenyataan bahwa ada beberapa orang yang walaupun menunjukkan performa baik sepanjang tahun, toh bonusnya tidak mengalami kenaikan. Kata manajer, saya termasuk di antara yang “beruntung” mengalami kenaikan bonus meski tidak sebanding dengan performa kerja yang sangat positif.

Disyukuri, alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah. Jujur sih ya, saya sempat sedikit kecewa karena menganggap duh, kok hasil kerja saya “dihargai” cuma segitu ya? Tapi engga jadi kecewa akhirnya, karena memang banyak faktor di luar kehendak saya yang membuat besaran bonus tidak seperti yang saya bayangkan. Toh, manajer meyakinkan saya bahwa besaran bonus tahun ini memang tidak sepenuhnya mencerminkan prestasi kerja. Jumlahnya tidak meningkat signifikan semata-mata karena ini bukan tahun yang bagus untuk perusahaan.

Iya, saya harus bersyukur. Hari gini, di saat penduduk “asli” Prancis sendiri masih banyak yang berjuang mencari pekerjaan, saya yang termasuk migran bersyukur masih punya pekerjaan tetap, masih pun dianggap layak untuk mendapat kenaikan bonus.

N’est-ce pas? 🙂

Mau ada si sisi mana?

*cuma buat pengingat untuk selalu bersyukur, always and always look for the silver lining*

Kemarin baru terima isian pajak pendapatan untuk tahun 2008, hmmm siap-siap nih, siap jantungan ngeliat nominal pajak yang musti dibayar hehe… Jadi begini, saya kan mulai kerja bulan September 2007, sementara perhitungan pajak pendapatan setiap tahun selalu mengacu ke tahun sebelumnya. Nah, tahun 2008 kemarin, perhitungan pajaknya untuk pendapatan sepanjang tahun 2007 kan… Berhubung masa kerja saya yang cuma selama 3 bulan sepanjang tahun 2007, jadinya deklarasi besaran pajak tahun kemarin gak terlalu bikin shock. Tapi tahun ini nih, karena *alhamdulillah* sepanjang tahun 2008 kerja full time daaannn sebagai konsekuensi pasangan menikah yang keduanya bekerja dan belum ada anak…eng ing enggg… Siap-siap deh ngeluarin pajak yang sampe sekian digit…

Tapi, kamu mau ada di sisi mana? Menyesali “sekian” euros yang akan dikeluarkan atau mensyukuri masih punya pekerjaan di saat krisis begini? Merasa percuma mendapatkan gaji sekian karena sekian persen lari ke pajak atau bersyukur karena masih bisa membayar pajak – sementara sebagian orang masih harus menadahkan tangan untuk memenuhi kebutuhan dasar?

Saya memilih bersyukur.

Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah.

Kamu mau tinggal di tempat di mana kamu bisa pulang larut tanpa rasa takut? Transportasi lancar, infrastruktur terjaga, sistem asuransi yang teratur, tapi gak rela bayar pajak?

Impossible non?
🙂

“Klien pilih kita pasti bukan karena harga produk kita bersaing

…karena tarif yang kita tawarkan lebih mahal dibanding Bloomberg dll. Kalau kita menang tender, itu karena klien yakin akan kelengkapan data yang kita punya. Itu nilai plus kita.”

Gosh, how I love doing what I do now. So many challenges, limitless knowledge. Who would have thought that I’d be doing this financial-related job, the subject that I liked the least. But hey, learning about stock-warrant-bond-short interest-mutual fund turns out to be real exciting. The word “financial market” doesn’t scare me anymore.

Lovin’ my job.

Alhamdulillah.