Kelas menengah perah

Habis merenungi tagihan pajak, lalu mbatin… Terlalu kaya untuk dapat tunjangan macam-macam, terlalu miskin untuk dapat potongan pajak; itulah yang dinamakan kelas menengah, kegencet atas bawah, lalu jadi sapi perah. Tapi saya tetap percaya dan taat pajak sih. Paling engga, kelihatan jelas ke mana larinya pajak yang saya bayar setiap tahun dengan hati perih itu. Misalnya antara lain dalam bentuk sarana perpustakaan alias médiathèque yang super canggih. Masa yah, saya sempat terpana norak waktu melihat alat scan buku yang cara kerjanya cuma dengan meletakkan buku di atasnya. Kalau mau pinjam buku tanpa antri pun kita bisa men-scan sendiri buku-buku yang mau kita pinjam. Lalu berapa buku (termasuk komik, majalah dll) yang bisa dipinjam? 15 buku, plus 2 CD dan 1 DVD. Semuanya bisa dipinjam sampai 4 minggu dan sama sekali gratis. 

Selain itu, médiathèque biasanya juga menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk anak dan remaja, yang, tentunya, bisa diikuti dengan gratis. Ada pembacaan dongeng, pemutaran film khusus untuk anak-anak, macam-macam games dll. Anak saya yang umurnya belum sampai 2 tahun pun sudah punya kartu anggota sendiri lho :). Jadi…, yah… mau gak mau, rela deh saya ditodong negara *tapi teteup gak rela bayar iuran tipi yang tiap tahun naik, HIH*.

Iklan

Mantra work-life balance

Pada akhirnya mantra work-life balance bagi ibu bekerja (apalagi di Prancis yang segala-galanya musti sendiri, no mbak no ART whatsoever) adalah harga mati. Biarlah kenaikan gaji gak seberapa *curhat alert* asalkan ada fasilitas kemudahan untuk kerja dari rumah kapan pun, kebebasan mengambil hak cuti bahkan di detik terakhir, jam kerja fleksibel… Semua itu dengan catatan target kerja terpenuhi tentunya ya.

Jadi kalau dibilang ini zona nyaman, ya memang nyaman banget sih. Lagipula hari gini di mana cari kerja itu susye di Prancis (apalagi buat kaum pendatang), saya bersyukur bisa ada di posisi ini. Walaupun ya… kalau presentasi kenaikan gaji bisa *jauh* melampaui tingkat inflasi, saya tentunya akan jauuhhh lebih senang :-D.

Independent, not super woman

Hari gini, masih ada ya yang masih bercita-cita gak mau kerja setelah menikah. Gak mau lho ya, bukan gak bisa. Lalu mempertanyakan kenapa perempuan harus jadi super woman karena harus bekerja dan mengurus rumah.

Hmmm… kalau saya sih ya, bekerja bukan untuk jadi super woman, tapi untuk jadi independent woman. Karena siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti? Kalau suami tidak bisa jadi “provider” saya lagi, apa pun alasannya, saya akan masih bisa bertahan. Lagipula hari gini gitu lho, perkara mengurus rumah dan anak selalu bisa dikerjakan bersama dengan suami. Jadi gak ada alasan untuk mengasihani diri sendiri dan “meratapi nasib” kenapa harus jadi super woman.