Best boss ever

Sepanjang pengalaman kerja saya, rasanya baru sekarang saya berani bilang bahwa boss saya adalah boss ter-OK. Hmm tapi mungkin gak bisa dibandingkan juga yah…karena sebelumnya saya kerja di Indonesia sebagai abdi negara, yang kumplit dengan segala birokrasi dan unggah-ungguhnya. Sementara sekarang saya kerja di suatu negara Eropa, yang tentunya konteks kulturalnya berbeda jauh dari Indonesia, pun demikian dengan corporate culture-nya.

Contoh yang paling sederhana, sekarang saya bisa menyapa atasan dengan “kamu” ; sementara kalau di Indonesia, saya bisa langsung diberhentikan dengan hormat kalau berani ber-kamu-kamu dengan atasan :). Saya pun bisa bebas memberi masukan bahkan kritik kepada atasan. Pastinya, semua dimungkinkan asal masih dalam batas-batas profesional ya.

Atasan saya yang sekarang berasal dari Swedia. Menurut saya, dia bisa banget menempatkan diri sebagai boss, tapi sama sekali gak bossy. Super cool tapi bisa menetapkan batas dan wibawa sebagai atasan. Diplomatis dalam berkomunikasi, jadi para stafnya merasa benar-benar dihargai. Singkatnya, merasa “di-orang-kan”. Saya belajar banyak sekali selama jadi stafnya. Caranya berkomunikasi secara lisan dan tulisan, cara memberikan dorongan pada orang lain tanpa harus terkesan memburu-buru atau pushy.

Baru-baru ini dia menganjurkan saya untuk mengikuti suatu pelatihan tentang coaching dan manajemen kepemimpinan. Saya sih merasa tersanjung aja, ge-er aja gitu siapa tau bakal dipromosikan segera hihi *amin!* :). Tapi begitu tahu bahwa salah satu materi pelatihan itu adalah public speaking, saya langsung ciut. Haduh, gimana sih, salah satu alasan saya mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya kan karena saya sering gugup kalau bicara di depan umum. Lah, sekarang malah disuruh cuap-cuap lagi? Kayaknya si boss tahu keengganan saya, dia lantas menyemangati saya dengan mengatakan bahwa public speaking bukan materi pokok. Yang penting di pelatihan itu adalah bagaimana kita bisa memperbaiki cara kita berkomunikasi secara efektif, yang merupakan modal penting untuk kemampuan melatih orang lain (to train the trainer). Kayaknya bapak boss pun orang yang agak introvert , jadi katanya dia pun tadinya gak begitu nyaman dengan materi public speaking. Tapi setelahnya dia merasa materi itu berguna untuk kemampuan manajerialnya. Yah, setelah merasa disemangati begitu, saya jadi agak mantap deh, sekarang. Ujung-ujungnya, saya jadi merasa bersyukur sekali punya pekerjaan yang sekarang ini. Hari gini gitu, di mana jumlah penganggur masih banyak, saya diberkati dengan pekerjaan yang saya sukai, dengan bonus kantor dan kolega yang menyenangkan, dan juga atasan yang terbaik. Alhamdulillah :).