Penabung atau investor?

Saya sedang berusaha mengubah mindset dari penabung menjadi investor. Tabungan jelas perlu, paling tidak untuk dana darurat yang idealnya 12 kali pengeluaran sebulan. Mungkin kalau untuk pasangan yang belum mempunyai anak, jumlahnya bisa saja hanya 6 kali pengeluaran, tapi untuk amannya sebaiknya sih 12 kali pengeluaran. Kenapa 12, untuk jaga-jaga seandainya suatu hari kehilangan penghasilan, setidaknya ada cadangan dana untuk bisa bertahan selama setahun.

Nah, kalau target dana darurat sudah tercapai, boleh deh mulai pilih-pilih instrumen investasi lain. Investasi ya, bukan spekulasi. Jadi, main-main saham bukan salah satunya. Seperti kebanyakan orang, saya terbiasa “main aman”, alias masih ragu untuk mulai investasi, untuk reksa dana sekalipun. Tabungan kan dananya likuid, bisa ditarik kapan saja kita butuh, plus bunganya pun bersih dari pajak. Tapi dipikir-pikir, gila juga ya, bunga tabungan di Prancis makin turun, sebagai akibat melambatnya inflasi. Dari 4% turun jadi 2,5%, terus baru2 ini turun lagi jadi 1,75%. Kabarnya sebentar lagi mau diturunkan lagi jadi 1,25%. Lah hampir sia2-sia deh kalau gitu nabungnya, bunganya mini sekali.

Jadi, gak bisa enggak, diversifikasi aset harus dilakukan kalau gak mau uang kita cuma tidur aja di bank. Makanya saya sekarang lagi tertarik dan mempelajari tawaran obligasi dari EDF/Electricité de France, PLN-nya Prancis. Obligasi gampangnya disebut surat utang, jadi kita memberikan pinjaman untuk jangka waktu tertentu (di sini 5 tahun) kepada EDF. Sebagai “imbalan”, EDF memberikan bunga (disebut kupon untuk obligasi) sebesar 4,5% per tahun. Gak terlalu besar juga sih ya, plus nanti akan dipotong pajak pula, tapi yang pasti lebih besar daripada bunga tabungan. Dana obligasi ini terkunci selama 5 tahun dan akan dikembalikan seutuhnya oleh EDF tahun 2014. Seperti instrumen investasi lainnya, obligasi pastinya punya faktor risiko juga. Yang paling ekstrem, kalau perusahaan bangkrut dan tidak bisa membayar nilai nominal obligasi. Tapinya nih, di kasus seperti itu, pemegang obligasi akan diutamakan dibanding pemegang saham. Iya, soalnya statusnya pemberi utang. Jadi kalau perusahaan penerbit obligasi bangkrut, asetnya akan diutamakan untuk membayar para kreditur, baru kemudian kalau ada sisa, buat membayar para pemegang saham.

Hmm, tertarik sekali sih saya sama obligasi EDF ini. Tapi, masih ada rasa ngeri juga, apalagi kalau ingat sama tragedi obligasi Lehman & Brothers belum lama ini. Yah browsing lagi deh dan tanya-tanya sama bank penyalur obligasi biar lebih mantap. Yang pasti, mindset investor itu penting, biar lebih sadar finansial. Saya juga masih harus banyak belajar soal diversifikasi portfolio. Berikutnya, pingin coba menjalankan metode Dollar Cost Averaging untuk investasi reksa dana. Masih agak was-was sih ya sama situasi pasar sekarang yang sepertinya masih belum pulih benar, tapi kalau takut terus dan gak mulai investasi dari sekarang, kapan lagi?

Iklan

Pernah nonton di bioskop sendiri?

Maksudnya nonton seorang diri di ruang bioskop, tanpa ada penonton lain kecuali kita seorang? Saya pernah. Pertama kali itu pula. Terus nonton film yang agak menyeramkan pula, bukan horror sih memang, cuma adegannya lumayan menegangkan, genre psychological thriller gitu. Kalo soal nonton ke bioskop sorangan, tanpa ditemenin siapa-siapa sih saya sudah biasa :). Habisnya, suami saya sangat pemilih untuk urusan nonton di bioskop, ngggg pokoknya sih asal ada action, monster, zombie mungkin, atau malah naga, dia hayuk-hayuk aja :D. Tapi tipe chick flick, komedi romantis? Doh mesti ditarik-tarik dulu baru deh mau nonton. Tapi gpp…, dengan begitu saya bisa sering-sering nikmatin me time dengan nonton sendiri di bioskop tiap week-end. Malahan saya enjoy banget jadinya. Pokoknya kalo mulai bosen sama kerjaan di tengah-tengah minggu, cukup dengan inget week-end nanti mau marathon cinema, jadi semangat lagi deh! 🙂

Anyway, jadinya hari Sabtu kemarin, saya ke bioskop aja sendirian. Suami kebetulan lagi lembur, makanya saya sudah bertekad HARUS nonton 3 film berturut-turut. Supaya enak pembagian waktunya, saya sudah mulai marathon cinema dari jam main film yang pertama, jam 11 pagi. Dimulai dari “Ne Te Retourne Pas/Don’t Look Back”, thriller yang masuk ke seleksi Festival de Cannes kemarin ini. Ide ceritanya menurut saya, termasuk orisinal. Seorang wanita (diperankan Sophie Marceau), tiba-tiba melihat segala sesuatu di hidupnya berubah : apartemennya, suami dan anak-anaknya, ibunya, bahkan dia sendiri. Anehnya, cuma dia seorang yang menyadari perubahan itu. Pelan-pelan fisiknya semakin berubah, hingga menjadi wanita lain yang diperankan Monica Belucci. Lumayan bikin penasaran kan? Jarang-jarang ini, film Prancis dengan tema kayak begini.

Tadinya, saya pikir film ini akan menarik banyak penonton di Prancis. Ternyata oh ternyata, pagi itu cuma saya SENDIRIAN dong deh yang nonton film ini. Tadinya, saya sudah siap-siap dihampiri petugas bioskop yang bilang bahwa jadwal film jam 11 ini dibatalkan karena cuma ada 1 penonton. Di Jakarta begitu bukan? Saya pernah ngalamin soalnya, gak tau deh apa sekarang masih berlaku seperti itu. Eh tapi ternyata di Prancis, pemutaran film tetap dijalankan meski cuma ada 1 penonton sekali pun. Malah mungkin film tetap akan diputar walau gak ada penonton sama sekali. Jadilah deh, saya waktu itu puas menguasai ruang bioskop :D. Ngggg walau kalo ada adegan yang agak bikin takut plus diiringi latar musik yang menegangkan, saya langsung mengkeret sambil lirak-lirik ke sekeliling yang gelap. Terus berdoa mudah-mudahan gak ada psikopat yang diam-diam menyelinap untuk membantai orang yang nonton film sendiri seperti saya *OK, ini efek kebanyakan nonton film Hollywood*. 😀

Secara keseluruhan, filmnya lumayan lah… Gak persis seperti yang saya bayangkan memang, tapi cukup deh nuansa thriller-nya. Heran aja kenapa sedikit penontonnya. Iya lho, saya amati, film-film yang pasti banyak pentontonnya dan yang paling lama bertahan di bioskop Prancis itu pasti film Hollywood. Bukan film Prancis. Cukup menarik ya? Padahal industri perfilman di Prancis cita-citanya kan ingin bersaing dengan produk AS, tapi nyatanya mereka keok di kandang sendiri.